Mental dan Pemuda
Tanggal 10 Oktober
kemarin, kita memperingati hari kesehatan mental dunia. Peringatan tersebut
pastinya guna menambah kepekaan kita, khususnya generasi muda akan pentingnya
kesehatan mental.
Namun, apakah
peringatan tersebut sejatinya benar-benar meningkatkan self-awareness pada kita
mengenai kesehatan mental? Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar yang
dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2018, menunjukkan bahwa prevalensi orang
gangguan jiwa berat (skizofrenia/psikosis) meningkat dari 0,15% menjadi 0,18%,
sementara prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia 15 tahun
keatas meningkat dari 6,1% pada tahun 2013 menjadi 9,8 % pada 2018. Artinya,
sekitar 12 juta penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas menderita depresi.
Bahkan dari hasil
survei yang bertujuan untuk mengetahui angka dan penyebab kematian secara
nasional (Sistem Registrasi Sampel/SRS) diperoleh data bahwa pada tahun 2016
telah terjadi 1.800 kematian akibat bunuh diri. Hal ini berarti bahwa setiap
harinya hampir terjadi 5 kematian akibat bunuh diri. Secara global WHO telah
menyebutkan bahwa lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya atau
sekitar 1 orang setiap 40 detik melakukan bunuh diri.
Bertambahnya kasus
depresi dari tahun ke tahun membuat kita bertanya-tanya apa penyebab dari ini
semua. Penyebab yang memicu gangguan pada kesehatan mental pastilah beragam.
Dimulai dari faktor eksternal maupun internal. Terlebih kepada generasi muda
yang cenderung menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan gadget.
Bukan menjadi hal rahasia, jika gadget memang
menyimpan banyak dampak negatif baik itu dampak fisik maupun psikologis.
Kecanduan gadget pada generasi muda dapat membuat
pribadi remaja yang apatis, pemalas, dan cenderung mengabaikan kewajiban.
Dilansir dalam laman artikel ilmiah FK UGM menyatakan bahwa, Salah satu dampak
kemajuan teknologi digital dan perkembangan sosial media adalah meningkatnya
angka kasus gangguan kesehatan mental terutama berkaitan dengan kecanduan akan
gawai (gadget). Penelitian yang berjudul “A Tool to Help or Harm? Online Social
Media Use and Adult Mental Health in Indonesia” dalam International Journal of
Mental Health and Addiction menyebutkan bahwa penggunaan medsos yang berlebihan
berbahaya bagi kesehatan mental karena dapat menyebabkan depresi. Peningkatan
penggunaan media sosial dikaitkan dengan peningkatan skor Center for
Epidemiological Studies Depression/CES-D atau skala depresi pada seseorang
sebesar 9%.
Tingkat depresi ini
juga berkaitan erat dengan kasus cyberbullying
yang kerap terjadi di media sosial. Dampak yang diakibatkan oleh tindakan
ini pun sangat luas cakupannya. Remaja yang menjadi korban bullying lebi
hberisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental.
Adapun masalah yang lebih mungkin diderita anak-anak yang menjadi korban
bullying, antara lain munculnya berbagai masalah mental seperti depresi,
kegelisahan dan masalah tidur yang mungkin akan terbawa hingga dewasa, keluhan
kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut dan ketegangan otot, rasa
tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, dan penurunan semangat belajar
dan prestasi akademis. Contoh kasus terjadi pada seorang siswa sekolah dasar di
Ohio yang tewas gantung diri menggunakan dasi karena dibully oleh teman sekolahnya.
Bocah berumur 8 tahun ini menjadi korban bullying secara fisik. Ia kerap
dipukuli oleh teman-temannya di sekolah. Contoh lain dating dari Texas. Seorang
remaja perempuan nekat menembakkan pistol ke dadanya sendiri hingga tewas
karena ia merasa dihujat habis-habisan di dunia maya.
Adanya kata-kata
beracun yang dapat membuat seorang merasa insecure pada tubuh atau fisik mereka
juga dapat membawa pada depresi berat yang akhirnya mereka memutuskan untuk
bunuh diri. Hal seperti ini banyak kita jumpai pada kasus artis Korea dan
antifansnya.
Sebenarnya kita
memiliki system perlindungan diri kita sendiri. Ada seseorang yang peduli
dengan perkataan buruk tentang dirinya dari teman sekolahnya. Di sisi lain, ada
pula yang sama sekali tak peduli tentang perkataan buruk tentangnya dari teman sekolahnya.
Semua orang memiliki latar belakangnya masing masing. Hal tersebutlah yang
membuat adanya perbedaan sikap dan penyikapan.
Jadilah diri sendiri. Kamu itu indah, kamu limited edition. Perbanyak rasa syukur sebab tak semua memiliki apa yang kamu punya. Jadilah pemuda yang dapat menerima sekaligus bertanggung jawab terhadap dirimu sendiri. Buatlah lingkungan positifmu. Hari ini adalah milikmu.
Dukungan dari orang sekitar mengambil peran yang
paling penting saat kamu terjatuh. Ingat, kamu tak sendiri. Beranikanlah dirimu
untuk bercerita hal yang mengganjal dalam hatimu. Kamu kuat, tapi kamu butuh
dari sekadar kuat. Kamu butuh orang lain, dan yang pasti kamu selalu butuh Allah.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(QS. Al-Baqarah: 286).
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqarah: 185).
Sumber
Alquraanulkariim
Zakiah, Humaedi, Santoso. 2017. Faktor yang
Mempengaruhi Remaja dalam Melakukan Bullying. Jurnal Penelitian & PPM Vol
4. No.2.
Iro fk. 2020. Menjawab Tantangan Kesehatan Mental di
Era Milenial. Berita FK-KMK UGM. P.1.
Comments
Post a Comment